Begitu jauhnya kita dari generasi salaf.
Perhatian mereka adalah akhirat, sedangkan kita dunia. Dunia terus dikejar, sampai lupa maut sudah hampir menjemput. Dunia terus dicari, padahal semuanya akan dilepas, kecuali kain kafan, saat kita masuk liang lahad.
Saat ini, kita tak pernah merasa puas untuk terus mengejar
target-target duniawi, tak pernah berhenti dan terus mencari. Beda
halnya dengan perkara yang akan mengantarkan kita pada akhirat, kita
sering sudah merasa cukup dengan amal yang sedikit, dengan ilmu yang tak
seberapa.
Menuntut ilmu, yang dengannya kehidupan kita tak diselimuti kebodohan, yang dengannya rahmat Allah dan surga-Nya bisa kita raih, bi-'auniLlah, jarang kita perhatikan. Sebagian kita sudah merasa cukup ketika sudah mampu membaca iqra. Sebagian lagi merasa cukup ketika sudah cukup lancar membaca Al-Qur'an. Sebagian lagi merasa cukup setelah hafal beberapa juz Al-Qur'an.
Ada yang merasa cukup belajar Islam dari mata pelajaran agama Islam di sekolah dulu. Ada yang merasa cukup belajar Islam dari mentoring agama Islam di kampus. Ada yang merasa cukup belajar Islam hanya dari majelis ta'lim dua jam seminggu, itu pun kadang dengan pemateri yang tak jelas juga keilmuannya.
Bagaimana dengan ulama salaf?
Mari kita belajar dari Asy-Syafi'i rahimahullah.
Beliau telah hafal Al-Qur'an di usia 7 tahun, dan hafal kitab hadits tershahih di masa itu, Al-Muwaththa, di usia 10 tahun. Apakah beliau kemudian berhenti belajar? Kalau kita, sepertinya kita akan memilih berhenti belajar. Toh dengan hafalan segitu, di masa ini, kita sudah bisa tampil di hadapan ribuan orang dengan penuh kebanggaan dan kepongahan(?).
Asy-Syafi'i tak berhenti. Beliau terus belajar, hingga di usia 15 tahun beliau telah diizinkan untuk berfatwa di Masjidil Haram. Saat itu, hanya orang-orang yang benar-benar berilmu lah yang boleh berfatwa. Tidak seperti sekarang, saat semua orang boleh berfatwa, saat semua orang boleh bicara agama, walaupun hanya dengan modal modul mentoring.
Apakah Asy-Syafi'i berhenti? Tidak. Beliau terus belajar. Beliau kemudian mulazamah dengan orang yang paling alim di tanah Hijaz, Imam Malik. Beliau belajar adab dan ilmu dari imam Malik, hingga wafatnya sang guru. Saat gurunya wafat, Asy-Syafi'i telah berhasil mengumpulkan fiqih Hijaz, fiqih ahli Hadits. Berhentikah beliau? Tidak.
Beliau kemudian melakukan rihlah ke beberapa negeri dan utamanya Iraq. Di sana beliau belajar dan berdiskusi dengan murid-muridnya Abu Hanifah, utamanya dengan ulama yang bertubuh gemuk, Imam Muhammad ibn Hasan Asy-Syaibani. Dengan kecerdasannya, Asy-Syafi'i berhasil mengumpulkan dua aliran fiqih besar di masa itu, fiqih ahli Hadits di Hijaz dan fiqih ahli ra'yi di Iraq. Kemudian, beliau pun mendeklarasikan madzhabnya sendiri, yang tidak taqlid pada Malik ataupun Abu Hanifah.
Cukupkah sampai di sini? Tidak. Asy-Syafi'i terus belajar dan mengkaji. Hingga di negeri terakhir yang beliau singgahi, Mesir, beliau mengoreksi beberapa pendapat beliau sebelumnya. Lahirlah madzhab jadid-nya Imam Asy-Syafi'i. Di negeri ini juga beliau wafat, rahimahullah.
Apakah Asy-Syafi'i belajar dan terus belajar itu untuk karir dan jabatan? Tidak.
Apakah untuk popularitas dan tepuk tangan? Tidak.
Beliau terus belajar adalah untuk meninggikan kalimat Allah, untuk menerangi umat dengan cahaya ilmu.
Bagaimana dengan kita?
Menuntut ilmu, yang dengannya kehidupan kita tak diselimuti kebodohan, yang dengannya rahmat Allah dan surga-Nya bisa kita raih, bi-'auniLlah, jarang kita perhatikan. Sebagian kita sudah merasa cukup ketika sudah mampu membaca iqra. Sebagian lagi merasa cukup ketika sudah cukup lancar membaca Al-Qur'an. Sebagian lagi merasa cukup setelah hafal beberapa juz Al-Qur'an.
Ada yang merasa cukup belajar Islam dari mata pelajaran agama Islam di sekolah dulu. Ada yang merasa cukup belajar Islam dari mentoring agama Islam di kampus. Ada yang merasa cukup belajar Islam hanya dari majelis ta'lim dua jam seminggu, itu pun kadang dengan pemateri yang tak jelas juga keilmuannya.
Bagaimana dengan ulama salaf?
Mari kita belajar dari Asy-Syafi'i rahimahullah.
Beliau telah hafal Al-Qur'an di usia 7 tahun, dan hafal kitab hadits tershahih di masa itu, Al-Muwaththa, di usia 10 tahun. Apakah beliau kemudian berhenti belajar? Kalau kita, sepertinya kita akan memilih berhenti belajar. Toh dengan hafalan segitu, di masa ini, kita sudah bisa tampil di hadapan ribuan orang dengan penuh kebanggaan dan kepongahan(?).
Asy-Syafi'i tak berhenti. Beliau terus belajar, hingga di usia 15 tahun beliau telah diizinkan untuk berfatwa di Masjidil Haram. Saat itu, hanya orang-orang yang benar-benar berilmu lah yang boleh berfatwa. Tidak seperti sekarang, saat semua orang boleh berfatwa, saat semua orang boleh bicara agama, walaupun hanya dengan modal modul mentoring.
Apakah Asy-Syafi'i berhenti? Tidak. Beliau terus belajar. Beliau kemudian mulazamah dengan orang yang paling alim di tanah Hijaz, Imam Malik. Beliau belajar adab dan ilmu dari imam Malik, hingga wafatnya sang guru. Saat gurunya wafat, Asy-Syafi'i telah berhasil mengumpulkan fiqih Hijaz, fiqih ahli Hadits. Berhentikah beliau? Tidak.
Beliau kemudian melakukan rihlah ke beberapa negeri dan utamanya Iraq. Di sana beliau belajar dan berdiskusi dengan murid-muridnya Abu Hanifah, utamanya dengan ulama yang bertubuh gemuk, Imam Muhammad ibn Hasan Asy-Syaibani. Dengan kecerdasannya, Asy-Syafi'i berhasil mengumpulkan dua aliran fiqih besar di masa itu, fiqih ahli Hadits di Hijaz dan fiqih ahli ra'yi di Iraq. Kemudian, beliau pun mendeklarasikan madzhabnya sendiri, yang tidak taqlid pada Malik ataupun Abu Hanifah.
Cukupkah sampai di sini? Tidak. Asy-Syafi'i terus belajar dan mengkaji. Hingga di negeri terakhir yang beliau singgahi, Mesir, beliau mengoreksi beberapa pendapat beliau sebelumnya. Lahirlah madzhab jadid-nya Imam Asy-Syafi'i. Di negeri ini juga beliau wafat, rahimahullah.
Apakah Asy-Syafi'i belajar dan terus belajar itu untuk karir dan jabatan? Tidak.
Apakah untuk popularitas dan tepuk tangan? Tidak.
Beliau terus belajar adalah untuk meninggikan kalimat Allah, untuk menerangi umat dengan cahaya ilmu.
Bagaimana dengan kita?
ConversionConversion EmoticonEmoticon