Tentang buku pelajaran agama Islam yang membahas imamah banci, seandainya yang dikritisi hanya penerjemahan khuntsa menjadi banci, maka itu tidak terlalu masalah. Walaupun menerjemahkan kata khuntsa menjadi banci pun sebenarnya tidak bisa disalahkan 100%. Lihat saja kamus Arab-Indo atau Indo-Arab, maka khuntsa memang bisa diterjemahkan dengan banci, dan banci bisa diterjemahkan dengan khuntsa.
Membahas sisi kontroversi bahwa banci sekarang kebanyakan bukan khuntsa, tapi mukhannats, atau bahkan luthi, sah-sah saja.
Saya sendiri lebih menyoroti pada pelabelan liberal pada buku tersebut
dan penulisnya, yang terkesan begitu terburu-buru dan tergesa-gesa.
Melihat kejanggalan sedikit -menurutnya-, langsung keluar tuduhan
liberal atau semisalnya.
Tuduhan tergesa-gesa semacam ini sebenarnya cukup sering saya temukan. Satu contoh lagi, misalnya ada seorang kiyai muda yang cukup sering mengkritik kelompok Islam tertentu, tidak lama kemudian, kiyai ini langsung dilabeli liberal dan semacamnya. Padahal, kalau dilihat rekam jejak sang kiyai, ia malah juga sering mengkritik kalangan liberal, bahkan debat dengan mereka.
Seharusnya yang dibudayakan, jika memang ada perbedaan pendapat, adalah fokus membahas ide yang diperdebatkan, tanpa buru-buru melabeli lawan diskusi dengan tuduhan macam-macam. Jika benar tidak masalah. Jika keliru, dan hanya ketergesaan, apa ia berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti?
Sumber : Muhammad Abduh Al-Banjary
Tuduhan tergesa-gesa semacam ini sebenarnya cukup sering saya temukan. Satu contoh lagi, misalnya ada seorang kiyai muda yang cukup sering mengkritik kelompok Islam tertentu, tidak lama kemudian, kiyai ini langsung dilabeli liberal dan semacamnya. Padahal, kalau dilihat rekam jejak sang kiyai, ia malah juga sering mengkritik kalangan liberal, bahkan debat dengan mereka.
Seharusnya yang dibudayakan, jika memang ada perbedaan pendapat, adalah fokus membahas ide yang diperdebatkan, tanpa buru-buru melabeli lawan diskusi dengan tuduhan macam-macam. Jika benar tidak masalah. Jika keliru, dan hanya ketergesaan, apa ia berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti?
Sumber : Muhammad Abduh Al-Banjary
2 komentar
Click here for komentarthanks atas info ya mas..
Replyohh baru tau gan, artikelnya bermanffat juga :)
Replybacknya ditunggu >. http://kang-en.blogspot.com/
ConversionConversion EmoticonEmoticon